Klaten, 6 Mei 2025 – Lawu Insight
Sore itu langit Klaten mendadak menggelap. Angin menderu sebelum hujan turun deras di wilayah perbatasan Kecamatan Wedi dan Kalikotes. Dalam waktu kurang dari satu jam, cuaca ekstrem itu meninggalkan jejak: pohon tumbang, atap rumah beterbangan, dan kendaraan rusak tertimpa batang kayu raksasa.
Laporan dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Klaten menyebut sedikitnya delapan rumah terdampak dan tiga kendaraan rusak—termasuk satu mobil dan dua motor yang tertimpa pohon mahoni di Dusun Ngabetan, Desa Jimbung. Tak ada korban jiwa, namun kerugian material dan trauma warga cukup besar untuk kembali mengajukan satu pertanyaan penting: apakah kita siap hidup berdampingan dengan cuaca ekstrem?
Gejala Harian yang Terabaikan
Kepala Pelaksana BPBD Klaten, Syahruna, menjelaskan bahwa fenomena ini terjadi sekitar pukul 14.00 WIB dan berdampak di beberapa desa, seperti Sukorejo, Sembung, Kadibolo (Wedi), dan Jimbung (Kalikotes). Relawan dan warga bahu membahu membersihkan pohon tumbang hingga malam hari.
Namun di luar upaya tanggap darurat yang patut diapresiasi, kejadian ini menyoroti persoalan struktural yang kerap luput: kesiapsiagaan mikro terhadap bencana kecil namun rutin.
Indonesia adalah negara bencana, dan Klaten bukan pengecualian. Dari angin puting beliung hingga hujan es, peristiwa semacam ini bukan hal baru. Namun, belum semua daerah memiliki peta kerentanan lingkungan, sistem peringatan dini berbasis komunitas, atau regulasi penataan pohon di ruang publik yang memadai.
Politik Tata Kota dan Aklimatisasi
Setiap pohon tumbang yang menimpa rumah bukan sekadar peristiwa alam—ia adalah hasil dari akumulasi pengabaian. Dalam konteks tata kota, hujan angin seperti kemarin menantang pemerintah untuk tidak hanya reaktif, tapi proaktif: apakah jenis dan usia pohon di pinggir jalan sudah terdata? Apakah warga tahu harus berlindung di mana saat angin kencang datang?
Kebijakan adaptasi iklim di tingkat lokal belum menyentuh wilayah teknis ini. Perencanaan spasial masih mengutamakan pembangunan fisik, bukan mitigasi ekologis. Padahal, bencana skala kecil seperti ini justru yang paling sering terjadi dan paling langsung dirasakan.
Antara Repetisi dan Refleksi
Warga Jimbung, Ichwan, menjadi saksi langsung. Dalam testimoninya, ia menyebut bahwa angin datang seketika, menumbangkan pohon ke arah mobil dan dua sepeda motornya. “Saya di teras, baru saja ganti ban serep. Lalu pohon roboh menimpa semuanya,” kisahnya.
Kejadian ini hanya berselang sehari dari hujan es yang menghantam Kecamatan Prambanan (5 Mei 2025). Jika kejadian-kejadian ini dianggap biasa, maka kita sedang berjalan di atas siklus bencana yang terus mengulang tanpa pelajaran.
——



