Oleh: Redaksi The Lawu Post
Di tengah hingar bingar kota dan deretan berita soal korupsi, ada satu kisah yang membuat kita berhenti sejenak: seorang juru parkir asal Sragen, Jawa Tengah, berhasil berangkat haji setelah menabung selama 13 tahun dari receh demi receh hasil menjaga motor dan mobil orang lain.
Namanya Wagiran, 58 tahun. Ia bukan pengusaha, bukan pejabat, bukan pemilik warung besar di pasar. Ia hanya juru parkir biasa di Pasar Gemolong yang setiap hari mengais rejeki dari seribuan perhentian roda. Tapi tekadnya melampaui nominal. Impiannya tidak pernah kecil: ia ingin ke Tanah Suci, meski harus menabung Rp5.000–Rp10.000 per hari.
Kronologi Kisah:
Wagiran mulai menabung sejak tahun 2011. Ia menyimpan uang dalam kaleng dan celengan plastik. Tidak pernah dihitung besarannya. Tapi ia selalu bilang: “Asal istiqomah, pasti sampai.” Setiap kali tergoda menggunakan tabungan, ia bayangkan Ka’bah dan air mata ibunya. Tahun 2024, ia akhirnya cukup mendaftar. Tahun 2025, ia berangkat—tanpa riba, tanpa pinjaman, tanpa sponsor.
Apa yang bisa kita renungkan dari ini?
Di saat banyak orang mengejar spiritualitas instan—beli paket “haji furoda”, unggah selfie di depan Kakbah dengan caption puitis—ada orang yang berjuang 13 tahun hanya untuk satu panggilan: Labbaik Allahumma Labbaik.
Dan kita sering lupa: kemewahan bukan pada fasilitas, tapi pada kesungguhan. Wagiran mungkin tak fasih bahasa Arab, tak paham fiqih haji mendalam. Tapi ia paham arti menahan diri. Dan dalam agama, itu lebih tinggi nilainya.
Wagiran juga tidak sendiri. Di pasar-pasar kecil, ada ratusan orang yang menabung diam-diam untuk cita-cita besar: naik haji, sekolahkan anak, beli tanah sepetak. Mereka tidak viral. Tapi setiap hari mereka menjalani hidup dengan disiplin sunyi—yang lebih kuat dari motivasi manapun.
Sementara sebagian dari kita sibuk mencari shortcut hidup, orang seperti Wagiran membangun tangga panjangnya sendiri—satu anak tangga tiap hari, dengan keringat dan harapan.
Apa Pelajaran untuk Kita?
Bahwa kemiskinan tak selalu berarti kemustahilan. Bahwa yang kecil kalau konsisten, bisa menjadi besar. Bahwa ibadah bukan tentang cepat, tapi tentang niat yang tahan diuji waktu.
Di usia 58 tahun, Wagiran akhirnya bisa melihat Ka’bah. Bukan karena dia lebih kaya dari kita, tapi karena dia lebih teguh.
Dan ketika ia melempar jumrah di Mina, mungkin yang ia lempar bukan hanya simbol setan, tapi juga semua ragu, lelah, dan sakit selama 13 tahun yang ditimbunnya sendiri.
Kita patut belajar.
Kadang, iman paling murni justru datang dari tangan yang penuh keringat dan kantong celana yang bolong.
The Lawu Post
Menjaga Akal, Merekam Realita.



