Damai di Luar, Gelap di Dalam: Cerita Narkoba di Kota Sejuk

Oleh: Redaksi The Lawu Post

Karanganyar, kota yang lekat dengan hawa sejuk dan aroma teh, mencatatkan cerita gelap di balik keteduhan alamnya. Penangkapan jaringan narkoba dengan barang bukti ratusan gram ganja dan sabu menyentak kesadaran kita: bahkan tempat paling damai pun bisa menyimpan badai yang sunyi.

Kronologi Singkat:

Pada 3 Mei 2025, jajaran Satresnarkoba Polres Karanganyar berhasil mengungkap jaringan narkoba lintas kota.

Pelaku utama: MRA (26), warga Kecamatan Jaten Barang bukti: 707,38 gram ganja dan 7,55 gram sabu Penangkapan bermula dari patroli rutin di area Colomadu yang mencurigai pergerakan MRA Setelah digeledah, polisi menemukan sabu di tas pelaku dan ganja disembunyikan di rumah kontrakan

MRA mengaku mendapatkan barang dari jaringan luar kota dan berperan sebagai kurir sekaligus pengguna. Polisi menyatakan akan terus menelusuri jalur distribusi dan keterlibatan pihak lain.

Narkoba masuk tak lewat pintu besar. Ia menyusup lewat celah–celah kecil: kesepian, tekanan ekonomi, ambisi semu, dan gaya hidup yang ingin cepat, instan, dan viral. Tak perlu disko atau pesta untuk mencandu. Cukup sepi di kepala, cukup ruang kosong di hati.

Di balik satu paket sabu, ada banyak cerita: anak muda yang putus sekolah, bapak rumah tangga yang lelah, atau ibu rumah tangga yang merasa hampa. Kita sering menertibkan gejala, tapi lupa mengobati sebab.

Dan ketika media memberitakan penangkapan pelaku, kita tepuk tangan. Tapi siapa yang menyapa para pengguna yang tidak tertangkap? Siapa yang mendekat sebelum mereka memilih jalan pintas?

Kota kecil seperti Karanganyar sering terlambat sadar. Kita pikir narkoba hanya milik Jakarta atau Semarang. Kita pikir desa aman, dusun damai. Tapi justru karena terlalu percaya “semua baik-baik saja”, kita lengah.

Narkoba tak butuh lampu neon dan musik keras. Ia bisa hidup di kamar kos sempit, di sudut warung kopi, di balik status media sosial yang penuh tawa tapi kosong makna.

Solusinya bukan cuma penjara. Tapi pemulihan. Bukan hanya polisi, tapi pendekatan komunitas.

Buka ruang bicara: bukan ceramah satu arah, tapi forum dua arah Libatkan anak muda dalam kampanye kreatif: puisi, mural, film pendek—bukan stiker BNN Bangun sistem dukungan sosial: karena yang butuh diselamatkan bukan cuma tubuh, tapi juga jiwa

Karanganyar harus tetap sejuk. Tapi juga harus siaga. Karena damai yang cuma di luar, tapi gelap di dalam, adalah damai yang rapuh.

Dan kita tak bisa membiarkan masa depan anak-anak kita menguap dalam asap yang salah.

The Lawu Post

Merekam realita, menjaga akal.