Oleh Redaksi The Lawu Post
Di tengah gemuruh Liga 4 Nasional 2025, satu nama dari lereng Gunung Lawu mulai menggema di antara riuh stadion dan forum-forum daring: Persika Karanganyar. Bukan hanya karena lolos ke babak 16 besar, tapi karena ia membawa semangat daerah, kerja keras kolektif, dan impian yang tak gampang padam—meski bertarung di level yang masih kerap luput dari sorotan media arus utama.
Saat drawing menempatkan Persika di Grup A bersama tuan rumah Persikaba Blora, Persekabtas Tasikmalaya, dan Persikasi Bekasi—tim-tim dengan sejarah kuat—sorotan langsung tertuju pada “kuda hitam” dari Jawa Tengah bagian timur ini. Tapi Persika bukan sekadar pelengkap. Mereka adalah simbol bahwa sepak bola bukan hanya milik elite liga atas, melainkan juga milik rakyat yang berlatih di lapangan berdebu dan tribun sederhana.
Dari Tanah Karanganyar ke Panggung Nasional
Persika bukan nama baru bagi masyarakat Karanganyar, tetapi perjuangan mereka untuk konsisten di kompetisi nasional adalah bukti ketekunan dan cinta yang dalam terhadap sepak bola. Tim ini dibentuk dari semangat kolektif, didukung oleh suporter akar rumput, dan dikelola dengan cita-cita: mengangkat nama Karanganyar di peta sepak bola Indonesia.
Pelatih dan manajemen menyadari bahwa kualitas teknik saja tak cukup. Maka, yang ditanam adalah militansi, disiplin, dan filosofi bermain menyerang tapi sabar—gaya khas tim-tim yang berani memimpikan naik kelas.
Bukan Sekadar Bola, Ini Soal Identitas
Apa yang dilakukan Persika adalah lebih dari sekadar pertandingan. Ini adalah pernyataan identitas. Di tengah derasnya sentralisasi narasi di Jakarta dan kota-kota besar, Persika mengingatkan bahwa dari kota kecil pun bisa lahir cerita besar. Bahwa anak-anak muda Karanganyar berhak bermimpi mengenakan jersey klub profesional, mengibarkan merah putih dari stadion-stadion pelosok negeri.
Suporter Persika, dengan nyanyian dan koreografi khas, menjadikan tiap pertandingan bukan cuma tontonan, melainkan ritus kolektif: tentang kampung halaman, harga diri, dan masa depan.
The Lawu Spirit: Bertarung di Jalur Panjang
Dengan filosofi “berani, bersatu, berproses,” Persika menapaki babak 16 besar dengan kepala tegak. Mereka tahu lawan kuat. Tapi dari tanah Lawu, mereka membawa energi: bukan dari dana besar, tapi dari semangat besar. Bukan dari fasilitas elite, tapi dari komitmen total.
Apapun hasilnya nanti, Persika sudah menang dalam hal yang tak bisa dihitung skor: percaya diri, keberanian melawan peta kekuasaan lama, dan membakar harapan baru di dada generasi muda Karanganyar.
Catatan Redaksi:
Tulisan ini disusun sesuai kaidah jurnalistik berdasarkan UU No. 40 Tahun 1999 tentang Pers



