Oleh The Lawu Post
Politik di Jawa Tengah tak pernah statis. Ia adalah panggung panjang yang menguji watak, visi, dan ketahanan aktor-aktornya. Di antara puing-puing elektoral pasca-2024, ketika suara Golkar di Jawa Tengah belum cukup mengguncang, muncullah sosok Mohammad Saleh—tenang tapi tegas, teknokrat yang paham politik, dan politisi yang tak kehilangan arah pembangunan.
Terpilih secara aklamasi sebagai Ketua DPD Partai Golkar Jawa Tengah dalam Musda XI, Mohammad Saleh tak datang sebagai kejutan. Ia datang sebagai kebutuhan. Di tengah kebutuhan akan arah baru, struktur yang rapi, dan kepemimpinan yang membumi sekaligus menatap jauh ke depan, Saleh adalah jawaban yang telah lama ditunggu.
Politik sebagai Desain Jangka Panjang
Latar belakangnya bukan hanya kuat, tapi solid. Dari Ketua Komisi A DPRD Jawa Tengah hingga Wakil Ketua DPRD, dari aktivis Kosgoro 1957 hingga Ketua Umum PJSI Jateng, Saleh membuktikan bahwa ia bukan hanya pemilik loyalitas partai, tapi juga arsitek organisasi. Di balik karier politiknya, ada displin teknokratik lulusan Teknik Perencanaan Wilayah dan Kota UNDIP, dan nalar strategis sebagai Magister Energi.
Tak banyak politisi daerah yang berbicara tentang politik sebagai “perencanaan jangka panjang”. Saleh adalah pengecualian. Di tangan tokoh seperti inilah, Golkar tak sekadar bertahan—tapi berpotensi memimpin kembali.
Dari Bahlil ke Wihaji: Mandat Ganda, Agenda Besar
Ketua Umum Partai Golkar, Bahlil Lahadalia, menyampaikan amanah yang eksplisit kepada Saleh: benahi struktur hingga ke desa, konsolidasikan kekuatan tanpa toleransi bagi pengurus mati suri. Ini bukan sekadar tugas struktural, ini adalah uji kepemimpinan.
Wakil Ketua Umum Wihaji mempertegasnya: kuatkan jaringan, satukan faksi, bangun narasi politik baru dari daerah. Maka, di tangan Mohammad Saleh, mandat ini menjelma sebagai peta jalan: konsolidasi, regenerasi, ekspansi.
Saleh dan Politik Regeneratif
Yang membedakan Mohammad Saleh dari politisi lama adalah obsesinya terhadap regenerasi. Ia bukan hanya bicara soal anak muda sebagai ‘pelengkap semangat’, tapi benar-benar mendorong mereka masuk ke struktur inti. Ini bukan kosmetika organisasi, tapi penyemaian kader ideologis untuk 2029 dan seterusnya.
Dalam berbagai kesempatan, ia menyebutkan bahwa Golkar Jateng di bawah kepemimpinannya harus menjadi “tuan rumah di rumah sendiri.” Bukan hanya sebagai pengisi kursi legislatif, tapi sebagai pemilik narasi, pemegang logistik politik, dan penjaga kesinambungan pembangunan.
Magnet Baru di Tengah Pulau
Politik Jawa Tengah sedang mencari pusat gravitasi baru—dan dalam konteks ini, Saleh bukan sekadar ketua partai. Ia adalah magnet. Bukan karena popularitas, tapi karena kapasitas dan konsistensi. Ia bisa menjembatani logika elektoral dan idealisme partai. Ia bisa menjadi wajah baru Golkar di tengah peta politik yang sedang terfragmentasi.
Jika Golkar ingin kembali berjaya di 2029, maka Jawa Tengah harus menjadi basis. Dan jika Jawa Tengah ingin bangkit, maka ia butuh pemimpin yang tak hanya lihai bicara, tapi kuat bekerja—dan nama itu, hari ini, adalah Mohammad Saleh.
Catatan: Tulisan ini disusun berdasarkan kaidah jurnalistik dan prinsip pers yang menjunjung asas verifikasi, keberimbangan, serta kepentingan publik sesuai Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers.



