Air Semakin Jauh, Sementara Kita Sibuk Ribut di Meja Rapat

Oleh: Redaksi The Lawu Post

Kemarau memang bukan hal baru. Tapi setiap kali ia datang, selalu saja ada yang luput dipersiapkan. Di Sukoharjo, 17 desa kini terancam krisis air bersih. Sumur-sumur mulai mengering, pipa bantuan tak cukup panjang, dan satu-satunya yang panjang adalah sabar warga.

Di satu sisi, ini “musiman”—dan pemerintah sering menganggapnya begitu. Tapi di sisi lain, ini masalah laten yang sudah diwariskan selama puluhan tahun. Yang berubah cuma nama camat dan desain spanduk bantuan.

Air tak lagi mengalir dari tanah, tapi dari truk tangki. Dari anggaran. Dari proposal yang diajukan dan direvisi. Di beberapa titik, warga masih bisa menadah air hujan. Tapi berapa lama kita akan menggantungkan hidup pada mendung yang datang seminggu sekali?

Kita perlu berhenti menganggap kekeringan sebagai berita tahunan. Ini bukan musim. Ini sistem yang tak kunjung dibenahi.

Di banyak desa, warga sudah hafal jalan truk bantuan air. Ada yang rela menunggu sejak pagi, hanya untuk 2 ember penuh. Kadang tak cukup untuk cuci, hanya untuk minum dan masak. Sementara itu, rapat-rapat di kota bicara tentang visi besar, pembangunan jangka panjang, dan proyek strategis. Tapi kebutuhan air? Tidak masuk daftar prioritas.

Bagi warga, air bukan sekadar sumber hidup. Ia juga ukuran keadilan. Ketika sebagian orang bisa mandi air panas tiga kali sehari, sebagian lain harus menunggu satu tangki untuk berbagi dengan seluruh dusun.

Lalu apa solusinya?

Pertama, revolusi kecil di desa-desa rawan kekeringan:

Sumur bor bukan sekadar proyek, tapi harus dikelola warga Teknologi penadah air hujan dipasang massal, murah, dan tahan cuaca Pemetaan zona rawan harus terbuka dan terus diperbarui Pemda wajib punya “bank air” darurat sebelum truk datang

Kedua, kesadaran publik tentang konsumsi air bersih. Kota harus tahu: air yang kita buang untuk cuci mobil bisa menyelamatkan satu keluarga di desa.

Ketiga, narasi publik yang tak lupa suara desa. Media dan pemerintah harus angkat kisah ini, bukan hanya saat viral atau saat bupati turun tangan.

Kekeringan bukan takdir. Tapi membiarkan rakyat kehausan, itulah pilihan.

Dan ketika air sudah menghilang, jangan salahkan langit. Salahkan kita sendiri, yang lebih sibuk memoles janji ketimbang memompa realita.

The Lawu Post

Merekam realita, menjaga akal.